Posted by: Nandang Sutrisno S.H., M.H., LLM., Ph.D. | 30th Jan, 2013

Melawan Narkoba, Analisis di Kedaulatan Rakyat, 30 Januari 2013

MELAWAN NARKOBA

Nandang Sutrisno

(Pjs. Direktur Center for Drug Abuse Studies, Universitas Islam Indonesia)

Penangkapan Raffi Ahmad dan beberapa temannya pada tanggal 27 Januari lalu terkait dengan dugaan penyalahgunaan narkoba semakin menambah panjang daftar anak-anak bangsa yang terjerat peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Peristiwa tersebut seakan ingin melengkapi peristiwa beberapa hari sebelumnya, yaitu tertangkapnya 11 kurir narkoba yang ternyata dikendalikan oleh tiga warga negara asing (WNA) yang kini berstatus sebagai terpidana mati dan tinggal menunggu eksekusi.

Fakta-fakta ini seakan-akan ingin menunjukkan bahwa upaya-upaya nasional, regional dan internasional dalam perang melawan narkoba, dengan mengerahkan sumber daya manusia yang massif dan finansial yang sangat besar tidak mempunyai dampak yang signifikan. Penjatuhan hukuman, bahkan hukuman mati sekalipun seakan tidak ada pengaruhnya. Pada level global, menurut data dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), pemakai narkoba illegal mencapai jumlah 270 juta orang, dengan nilai perdagangan diperkirakan lebih dari US 330 milyar per tahun.

Di tanah air, data dari Yayasan Kesatuan Peduli Masyarakat (Kelima) dan GRANAT, menunjukkan bahwa pengguna narkoba pada 2012 mencapai 5 juta orang. Prevalensinya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, sebagaimana hasil Penelitian BNN dan Puslitkes UI (2011), pada tahun 2011 angkanya sebesar 2,2 % dan diperkirakan naik menjadi 2,56 % pada tahun 2013, dan 2,80% pada 2015. BNN juga memprediksi bahwa kerugian ekonomi mencapai Rp 48,2 trilyun.

Dengan kata lain, fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa ”war on drugs” selama ini masih kurang dirasakan efektivitasnya. Bahkan, lebih dari itu laporan dari UNODC mengakui bahwa selain menemui berbagai kegagalan, perang melawan narkoba ini juga justru telah menimbulkan dampak-dampak negatif yang serius. Pendekatan yang terlalu mengandalkan penghukuman dan kriminalisasi para pengguna dalam prosesnya mengabaikan pembangunan dan keamanan internasional serta menimbulkan banyak konflik. Pendekatan tersebut juga justru mengancam kesehatan publik, menyebarkan berbagai penyakit dan menyebabkan kematian, mengabaikan hak-hak azasi manusia, melahirkan stigmatisasi dan diskriminasi. Sangat ironis, perang terhadap narkoba selama ini juga menciptakan kejahatan dan bahkan justru memperkaya para criminal, dan menghambur-hamburkan biaya miliaran dollar untuk penegakan hukum yang kenyataannya tidak selalu efektif..

Untuk itu, selain lebih mengefektifkan yang bersifat ancaman atau “Threat-Based Approach ” tersebut, seperti pengetatan hukuman dan eksekusi terhadap terpidana mati para gembong narkoba, pendekatan “The Count the Costs” perlu dilakukan, sebagaimana yang direkomendasikan oleh Transformer. Melalui pendekatan ini, dampak-dampak negatif dari penegakan hukum harus benar-benar dihitung, dan opsi-opsi alternatif harus benar-benar dikaji melalui analisis yang berdasarkan pada bukti-bukti terbaik yang memungkinkan. Lembaga-lembaga swadaya masyarakat, individu-individu, para ahli, para pemuka masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan perlu dilibatkan dalam solusi alternatif tersebut. Dengan demikian solusi-solusi cerdas akan muncul melengkapi atau bahkan menggantikan yang ada, dan pendekatan penegakan hukum tidak lagi diposisikan seakan-akan merupakan satu-satunya solusi.

Responses

Menurut pendapat saya, penindakan dan penangkapan baik dari Polisi maupun BNN saja saya kira tidaklah cukup. Yang penting itu ialah pencegahan yang dilakukan dengan jalan bekerja sama dengan masyarakat dan LSM serta komponen-komponen baik formal maupun non formal yang ada di tubuh masyarakat. Selain itu bagi saya pribadi upaya pencegahan dan memerangi narkoba harus lebih diutamakan disamping juga sisi penegakan hukum bagi para penyalahgunaan narkoba tersebut.

Menurut pendapat saya, akan lebih baik apabila perang melawan narkoba di indonesia tidak hanya di tegakkan oleh pihak berwenang maupun bnn saja tapi juga melibatkan masyarakat umum dari berbagai lapisan yang seringkali berwujud lembaga-lembaga formal maupun non formal, tidak hanya itu bagi saya pribadi, lebih memilih untuk lebih meningkatkan upaya pencegahan perihal narkoba ini maupun memang tidak mengelakkan bahwa tindakan penegakan hukum yang dikuatkan jga merupakan salah satu unsur yang sangat penting

Menurut pendapat saya, upaya yang dapat dilakukan dalam melawan penyalahgunaan narkoba terutama untuk kalangan remaja yaitu:
1. Preventif
Untuk yang bersangkutan, dilakukan dengan cara menguatkan keimanan orang tersebut serta memberikan sosialisasi tentang bahaya narkoba. Untuk orang tua yang bersangkutan, dapat memberikan perhatian yang cukup kepada anaknya sehingga mengetahui segala kegiatan anaknya serta sang anak juga dapat merasa nyaman di keluarga. Dan untuk masyarakat, bertindaklah selayaknya warga negara yang baik, yang tertib hukum sehingga apabila mengetahui ada penyalahgunaan narkoba dapat langsung melaporkannya kepada instansi yang berwenang misalnya kepolisian atau BNN di daerah.
2. Represif
Untuk orang yang bersangkutan, dapat dilakukan rehabilitasi agar dapat sembuh dari kecanduan narkoba, bukannya malah dipidana. Sedanhkan bagi para pengedar, dapat diberikan hukuman pidana yang setimpal, atau jika dimungkinkan dapat diberi sanksi yang lebih berat agar menimbulkan efek jera.

Shafrinda R.Mekarisma 10410474

Berpendapat tentang "Melawan dan Memerangi Penyalahgunaan Narkoba"
Menurut Badan Narkotika Nasional , saat ini terdapat 4 juta pecandu narkoba di Indonesia. Mayoritas Pengguna dari kalangan remaja. ini adalah hal yang sangat memprihatinkan dalam hal estapet pemimpin bangsa nantinya. jika melirik tentang cara penanggulangan narkoba tersebut tidak bisa hanya di lakukan oleh lembanga-lembaga pemerintah maupun lembaga swdaya masyarakat saja. Dalam hal ini semua masyarakat harus berperan aktif dalam peperangan melawan narkoba. Dalam sebuah Hadist Nabi Muhammad SAW menjelaskan akan larangan tentang narkoba : Setiap zat, bahan atau minuman yang dapat memabukkan atau melemahkan (akal sehat) adalah khamar dan setiap khamar adalah haram. (HR Abdullah bin Umar ra). sudah sangat jelas Islampun sangat melarang mengkonsumsi Narkoba.
Adapun salah satu poin dari Permasalahan-permasalahan yang terjadi tidak bisa lepas dari lemahnya moral para penegak hukum di Indonesia. Narkoba layaknya adalah sebuah bisnis yang menggiurkan bagi beberapa kalangan. Baik Oknum BNN sendiri ataupun laiannya. seperti statmen Prof. Mahfud beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa Istanapun sarang Narkoba. Semua ini tergabung dalam Lingkup 'Mafia Narkotika'. adapun cara disini yang saya sorot dalam memerangi narkoba ialah:
1. Dalam prespektif hukum, yakni dengan memaksimalkan pranan pasal hukuman mati dalam setiap kasus narkoba terutama bagi bandar/pemain bisnis narkoba.
Saat sekarangpun masih terjadi kontroversi hukuman mati dalam prespektif HAM. baik dalam kasus korupsi, narkoba ataupun lainnya. Namun dalam permasalahan narkoba hukuman mati harus diefektifkan keberadaannya, hukuma mati dalam konteks narkoba tidak melanggar HAM. karena narkoba berdampak sistematis dan menghancurkan generasi muda. bayangkan jika suatu Negara seluruh generasi muda sudah terinfeksi virus narkoba. maka kehancuran sebuah negra itu semakin jelas.
2. Kemudian peran masyarakat,pemerintah.lembaga swadaya masyarakat.
Harus lebih memaksimalkan sosialisasi akan bahayanya narkoba ke sekolah-sekolah. mulai dari SD,SMP,SMP,dan perguruan tinggi. Mengingat konsumen narkoba di dominasi oleh remaja. harapannya sosialisasi ini berdampak sadarnya individu masyarakat. akan bahaya dan gerakan bersama melawan narkoba.

Penanggulangan dan pencegahan terhadap penyalahgunaan NARKOBA merupakan tanggung jawab bangsa Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya berada pada pundak kepolisian ataupun pemerintah saja. Namun, seluruh komponen masyarakat diharapkan ikut perperan dalam upaya penanggulangan tersebut. Setidaknya, itulah yang telah diamanatkan dalam pelbagai perundang-undangan negara, termasuk UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika.
Ada perlu dilakukan 2 langkah strategis penanggulangan penyalahgunaan narkoba yaitu :

(1) Pre-emptif. Upaya pre-emptif yang dilakukan adalah berupa kegiatan-kegiatan edukatif (pendidikan/pengajaran) dengan tujuan mempengaruhi faktor-faktor penyebab yang mendorong dan faktor peluang, yang biasa disebut faktor “korelatif kriminologen” dari kejahatan narkotika, sehingga tercipta suatu kesadaran, kewaspadaan, daya tangkal, serta terbina dan terciptanya kondisi perilaku/norma hidup bebas Narkoba. Yaitu dengan sikap tegas untuk menolak terhadap kejahatan Narkoba.

Kegiatan ini pada dasarnya berupa pembinaan dan pengembangan lingkungan pola hidup sederhana dan kegiatan positif, terutama bagi remaja dengan kegiatan yang bersifat produktif, konstraktif, dan kreatif. Sedangkan kegiatan yang bersifat preventif edukatif dilakukan dengan metode komunikasi informasi edukatif, yang dilakukan melalui pelbagai jalur antara lain keluarga, pendidikan, lembaga keagamaan, dan organisasi kemasyarakatan.

(2) Preventif. Upaya ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kejahatan Narkoba melalui pengendalian dan pengawasan jalur resmi serta pengawasan langsung terhadap jalur-jalur peredaran gelap dengan tujuan agar police Hazard tidak berkembang menjadi ancaman faktual.

Kedua, Peranan orang tua. Memahami bahwa masalah NARKOBA adalah salah satu masalah nasional dengan tingkat kompleksitas persoalan yang dapat mengancam ketahanan nasional bangsa dan negara serta dapat berpengaruh kepada proses pembangunan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, maka upaya penanggulangan terhadap ancaman bahaya Narkoba diperlukan adanya upaya dari pemerintah serta unsur-unsur dari ma-syarakat sebagaimana diama-natkan dalam pasal 57 UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan pasal 54 UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotrapika.

Orang tua sebagai bagian dari masyarakat sangat banyak memiliki peran dalam mendudkung pembangunan nasional, termasuk peran dalam upaya pemberantasan ancaman terhadap generasi muda dari bahaya Narkoba. Oleh karena itu langkah-langkah proaktif dapat dilakukan melalui (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan tempat tinggal, dan (3) lingkungan kerja.

Bagaimanapun juga, langkah-langkah strategis tersebut merupakan wujud kepedulian kolektif terhadap upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkoba yang harus dilakukan demi keselamatan dan eksistensi bangsa menyambut masa depan yang lebih cerah.

Menurut saya, jika memang segala upaya seperti halnya mengkriminalisasikan kejahatan narkoba belum begitu efektif. maka kita mungkin dapat mengambil contoh para petinggi Amerika latin sana yang menciptakan alternatif baru yang dapat menekan jumlah korban dengan kebijakan adaptif persuasif seperti mendekriminalisasikan Kejahatan Narkoba sebagai bentuk pencegahan dan pengendalian. Walaupun kadang hal itu akan dapat bertentangan dengan hukum nasional yang sudah ada seperti UN Drug Treaties.

Upaya Ini dapat dijalankan atas dasar kontrol yang dijalankan dari pemerintah. Dan hukuman bagi para pengguna pelanggar ketetapan Drug Decriminalization tidaklah masuk kedalam penjara, melainkan dimasukkan kedalam catatan kriminal dan didenda secara administrasi, sehingga akan memberikan hukuman secara lembut tetapi memberikan efek jera karenanya dan juga pemerintah bisa mendapatkan keuntungan dari denda tersebut.

....

ñýíêñ çà èíôó....

Leave a response

Your response:

Categories